Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengembangan Tes Uraian (Essay Test)

Konten [Tampil]
Pengembangan Tes Uraian

Pengertian Tes Uraian

Tes uraian dikenal juga sebagai essay test ataupun subjective test. Tes uraian adalah tes (seperangkat soal yang berupa tugas, pertanyaan) yang menuntut peserta didik untuk mengorganisasikan dan menyatakan jawabannya menurut kata-kata (kalimat sendiri) (Widiyanto, 2018: 124). Tes uraian adalah suatu tes yang menuntut peserta didik memberikan jawaban secara tertulis (Purnomo, 2016: 42). Tes bentuk uraian adalah tes yang pertanyaannya membutuhkan jawaban uraian, baik uraian secara bebas maupun uraian secara terbatas (Asrul, et al., 2014).

Kelebihan Tes Uraian

Adapun kelebihan dari tes uraian dalam Widiyanto (2018:124), yaitu:
  1. Untuk mengukur proses berpikir tingkat tinggi
  2. Untuk mengukur hasil belajar yang kompleks dan tidak dapat diukur dengan tes objektif
  3. Waktu yang digunakan untuk menulis soal lebih cepat
  4. Menulis tes uraian yang baik relatif lebih mudah dari pada menulis tes objektif yang baik
Lebih lanjut, Purnomo (2016: 42) menambahkan juga terkait dengan kelebihan penggunaan tes uraian antara lain: 1) dapat mengukur proses mental atau berpikir tingkat tinggi; 2) dapat mengembangkan kemampuan bahasa tulis dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa; 3) dapat melatih kemampuan berpikir atau penalaran yang runtut, logis, analitis, dan sistematis; 4) melatih keterampilan memecahkan masalah (problem solving); dan 5) membuat soal uraian lebih mudah dibandingkan dengan bentuk lainnya.

Kekurangan Tes Uraian

Adapun kekurangan dari tes uraian dalam Widiyanto (2018: 124-125), yaitu:
  1. Terbatasnya sampel materi yang ditanyakan
  2. Sukar memeriksa jawaban siswa
  3. Hasil kemampuan siswa dapat terganggu oleh kemampuan menulis
  4. Hasil pemeriksaannya cenderung tidak tetap
Lebih lanjut, Purnomo (2016: 42) menambahkan juga terkait dengan kekurangan penggunaan tes uraian antara lain: 1) sampel tes sangat terbatas, karrena tidak dapat menguji semua materi yang telah diberikan seperti pada tes objektif yang soalnya dapat dibuat dalam jumlah banyak; 2) adanya subjektifitas yang tinggi, baik dalam membuat pertanyaan, maupun dalam memeriksanya; 3) bentuk tes ini pada umumnya kurang reliabel dan hanya mampu mengungkap aspek yang terbatas; dan 4) pengoreksiannya memerlukan waktu yang lama sehingga tidak praktis apabila diberikan pada testee yang jumlahnya banyak.

Jenis-Jenis Tes Uraian

Berdasarkan ruang lingkupnya, tes uraian dapat dibedakan menjadi Uraian Terbatas (Restricted Response Items) dan Uraian Bebas (Extended Responses Items).
  • Uraian Terbatas (Restricted Response Items)
  • Uraian Bebas (Extended Response Items)
Berdasarkan penskorannya, tes uraian dapat dibedakan menjadi Bentuk Uraian Objektif (BUO) dan Bentuk Uraian Non Objektif (BUNO).
  • Bentuk Uraian Objektif (BUO)
  • Bentuk Uraian Non Objektif (BUNO)

Pengembangan Tes Uraian

Widiyanto (2018: 131) dalam bukunya menjelaskan langkah-langkah dalam pengembangan tes uraian, sebagai berikut:
  1. Merumuskan tujuan tes
  2. Mengidentifikasi Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar
  3. Analisis Buku Pelajaran dan Sumber dari Materi Belajar Lainnya
  4. Mengidentifikasi materi-materi yang cocok untuk dibuat dengan soal uraian
  5. Membuat kisi-kisi
  6. Penulisan soal disertai pembuatan kunci jawaban dan pedoman penskoran
  7. Penelaahan kembali rumusan soal (oleh sendiri atau orang lain)
  8. Reproduksi tes terbatas
  9. Uji coba tes
  10. Analisis hasil uji coba
  11. Revisi soal

Kaidah Penulisan Soal Uraian

Kaidah dalam penulisan soal uraian terdiri atas 3 komponen utama, yaitu kaidah materi, kaidah konstruksi dan kaidah bahasa (Widiyanto, 2018: 132-134).
  • Kaidah Materi
    1. Soal harus sesuai dengan indikator. Artinya soal harus menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan tuntutan indikator.
    2. Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan (ruang lingkup) harus jelas.
    3. Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran.
    4. Isi materi yang ditanyakan sudah sesuai dengan jenjang, jenis sekolah, dan tingkat kelas.
  • Kaidah Konstruksi
    1. Rumusan kalimat soal atau pertanyaan harus menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban terurai, seperti: mengapa ..., uraikan ...., jelaskan ...., bandingkan ...., hubungkan ..., tafsirkan ...., buktikan ..., hitunglah ... Jangan menggunakan kata tanyayang tidak menuntut uraian, misalnya: siapa ..., di mana ..., kapan.... Demikian juga kalimat tanya yang hanya menuntut jawaban ya atau tidak.
    2. Buatlah petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.
    3. Buatlah pedoman penyekoran segera setelah soalnya ditulis dengan cara menguraikan komponen yang akan dinilai atau kriteria penyekorannya, besarnya skor bagi setiap komponen, serta rentangan skor yang dapat diperoleh untuk soal yang bersangkutan.
    4. Hal-hal lain yang menyertai soal seperti tabel, gambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya, harus disajikan dengan jelas dan terbaca sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.
  • Kaidah Bahasa
    1. Rumusan kalimat soal harus komunikatif, yaitu menggunakan bahasa yang sederhana dan menggunakan kata-kata yang sudah dikenal siswa.
    2. Butir soal menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
    3. Rumusan soal tidak menggunakan kata-kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian.
    4. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal akan digunakan untuk tingkat daerah atau nasional.
    5. Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang menyinggung perasaan siswa.
Purnomo (2016: 43-44) memberikan beberapa saran dalam penulisan tes uraian antara lain: 1) ditulis berdasarkan indikator pencapaian kompetensi; 2) digunakan untuk mengukur tingkat berpikir tinggi; 3) soal dibuat berdasarkan suatu kasus; 4) agar lebih objektif gunakan tes uraian terbatas; 5) gunakan kata tanya seperti: jelaskan, hubungkan, bandingkan, identifikasikan, analisislah, deskripsikanlah, simpulkanlah, dsb.; 6) rumuskan pertanyaan dengan jelas, tegas, dan singkat sehingga tidak menimbulkan ambigu (penafsiran ganda); dan 7) mempertimbangkan waktu yang tersedia dengan jumlah soal dan kemampuan testee.

Selain itu. Penulisan bentuk soal esai perlu diperhatikan kaidah berikut: meyakinkan bahwa pertanyaan telah terarah; jangan memberikan izin atau memerintah peserta ujian untuk memilih di antara beberapa pertanyaan esai yang akan mereka jawab; dan terlebih dahulu memutuskan cara memberikan skor pada pertanyaan esai (Bloom, 1981: 185-186 dalam Dimyati & Purnomo, 2018: 215).

Referensi

  1. Asrul, Ananda, R., & Rosnita. (2014). Evaluasi Pembelajaran. Citapustaka Media. Bandung.
  2. Dimyati & Mudjino. (2018). Belajar & Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta.
  3. Purnomo, E. (2016). Dasar-Dasar dan Perancangan Evaluasi Pembelajaran. Media Akademi.Yogyakarta.
  4. Tim Pusat Penilaian Pendidikan. (2019). Panduan Penilaian Tes Tertulis. Pusat Penilaian Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
  5. Widiyanto, J. (2018). Evaluasi Pembelajaran (Sesuai dengan Kurikulum 2013): Konsep, Prinsip & Prosedur. UNIPMA Press. Jakarta Timur.
#EvaluasiPembelajaran #EvaluasiPembelajaranBiologi #PendidikanBiologi
Dewanto, S.Pd.
Dewanto, S.Pd. Pembelajar dan Pengajar MIPA
Print Friendly and PDF

Post a Comment for "Pengembangan Tes Uraian (Essay Test)"